Kita hidup di zaman yang sangat pandai menciptakan benda, tetapi belum tentu semakin pandai merawat manusia. Kita mampu membuat kecerdasan buatan yang dapat menulis, mesin yang dapat belajar, kendaraan yang dapat bergerak tanpa pengemudi, dan sistem digital yang mampu memprediksi hampir segala sesuatu. Di tengah kemajuan itu, ada pertanyaan yang justru semakin mendesak: apakah manusia sendiri masih berkembang sebagai manusia?
Pertanyaan ini penting karena peradaban tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi juga oleh kualitas kemanusiaan yang mampu kita pertahankan. Kita mungkin sedang memasuki sebuah fase baru dalam sejarah: bukan lagi sekadar zaman ketika manusia menggunakan teknologi untuk menaklukkan alam, melainkan zaman ketika manusia harus belajar kembali menaklukkan dirinya sendiri; keserakahan, ketergesaan, kesepian, kekerasan, dan kecenderungan untuk melihat sesama sebagai angka, data, konsumen, tenaga kerja, atau sekadar pengguna.
Era Humanisasi, Apakah lebih Manusiawi?
Barangkali inilah saat yang tepat untuk menyambut sebuah era yang dapat kita sebut sebagai Era Humanisasi. Selama berabad-abad, manusia mengenali dirinya sebagai Homo sapiens, makhluk yang mampu berpikir. Akal menjadi kebanggaan utama spesies ini. Kita membangun universitas, laboratorium, kota, industri, negara, dan jaringan komunikasi global karena kemampuan berpikir tersebut.
Tetapi sejarah juga memperlihatkan paradoks yang tidak nyaman: kecerdasan tidak otomatis membuat manusia lebih manusiawi. Orang-orang yang sangat cerdas dapat menciptakan senjata yang sangat mematikan. Sistem yang sangat efisien dapat menghasilkan ketimpangan yang sangat besar. Teknologi yang dirancang untuk mendekatkan manusia justru dapat membuat seseorang merasa semakin sendirian.
Masalah Manusia dan Pohon Kewarasan
Karena itu, mungkin persoalan manusia abad ke-21 bukan lagi bagaimana menjadi lebih pintar, melainkan bagaimana menjadi lebih manusia. Di sinilah gagasan tentang “pohon kewarasan” menjadi relevan. Pohon kewarasan adalah sebuah metafora tentang kehidupan yang memiliki akar, batang, cabang, dan buah. Akar adalah kemampuan kita untuk berhenti dan menyadari diri. Batang adalah nilai-nilai yang membuat kita tetap tegak ketika dunia berubah.
Cabang adalah relasi kita dengan orang lain, masyarakat, alam, dan generasi mendatang. Sementara buahnya adalah tindakan nyata yang membuat kehidupan bersama menjadi lebih layak dihuni. Pohon itu tidak tumbuh dalam semalam. Ia membutuhkan tanah, air, waktu, dan perawatan. Begitu pula kewarasan manusia. Kita sering berbicara tentang produktivitas, inovasi, pertumbuhan ekonomi, dan transformasi digital seolah-olah semuanya dapat berjalan tanpa batas.
Padahal manusia memiliki batas. Kita memiliki tubuh yang membutuhkan istirahat, pikiran yang membutuhkan keheningan, dan hati yang membutuhkan hubungan yang bermakna. Mungkin salah satu kegagalan terbesar peradaban modern adalah menganggap keterbatasan manusia sebagai kelemahan yang harus terus dikalahkan. Kita memaksa bekerja lebih cepat, merespons lebih segera, memproduksi lebih banyak, dan mengonsumsi lebih banyak.
Bahkan waktu istirahat pun sering berubah menjadi kesempatan untuk mengonsumsi konten. Kita tidak benar-benar berhenti; kita hanya berpindah dari satu layar ke layar lain. Di tengah situasi seperti itu, kewarasan bukan kemewahan. Ia adalah infrastruktur sosial. Masyarakat yang kehilangan kewarasan akan mudah kehilangan empati. Ketika empati menurun, manusia mulai mudah menghakimi.
Mendefinisikan Ulang Kemajuan Manusia
Ketika kemampuan mendengar menghilang, perbedaan berubah menjadi ancaman. Ketika semua hal diukur dengan keuntungan, sesuatu yang tidak menghasilkan uang dianggap tidak penting. Perawatan anak, misalnya, sering dipandang sebagai urusan privat keluarga, padahal tanpa kerja perawatan itu, ekonomi tidak mungkin berjalan. Begitu pula pekerjaan merawat orang tua, mendampingi orang sakit, menjaga lingkungan, atau menyediakan ruang aman bagi anak-anak.
Semua pekerjaan tersebut sering tidak terlihat dalam angka-angka pertumbuhan ekonomi, tetapi justru menopang kehidupan yang memungkinkan angka-angka itu tercipta. Karena itu, humanisasi bukan sekadar menjadi lebih ramah. Humanisasi adalah perubahan cara kita mendefinisikan kemajuan. Dalam paradigma lama, manusia terutama ditempatkan sebagai Homo sapiens: makhluk yang berpikir, menguasai, menciptakan, dan mengendalikan.
Menjadi Manusia dan Masyarakat Partisipatif
Dalam paradigma yang lebih matang, kita perlu bergerak menuju apa yang dapat disebut sebagai humanitas participans atau kemanusiaan yang berpartisipasi. Ia bukan manusia yang berdiri di luar dunia lalu mengamatinya. Ia adalah manusia yang hadir di dalam kehidupan bersama. Ia menyadari bahwa hidup bukan proyek individual semata. Keberhasilan seseorang selalu memiliki jejak kontribusi orang lain: keluarga, guru, pekerja, petani, pengasuh, tenaga kesehatan, lingkungan, bahkan generasi yang hidup sebelum kita.
Manusia yang berpartisipasi tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari dunia?” Ia juga bertanya, “Apa yang dapat saya berikan kepada dunia?”. Pertanyaan sederhana itu sebenarnya revolusioner. Ia mengubah hubungan kita dengan pekerjaan. Bekerja tidak semata-mata untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga untuk menciptakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan. Ia mengubah cara kita melihat pendidikan.
Pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang kompetitif, tetapi manusia yang mampu hidup bersama. Ia mengubah cara kita memahami teknologi. Teknologi tidak cukup dinilai dari seberapa cepat dan canggih ia bekerja, tetapi dari apakah ia membuat manusia semakin berdaya tanpa kehilangan martabat. Bahkan politik pun seharusnya bergerak ke arah yang sama. Demokrasi bukan sekadar mekanisme memilih pemimpin setiap beberapa tahun. Ia adalah kebiasaan untuk ikut bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang semua warganya sepakat, melainkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa kehilangan rasa hormat. Di sinilah pohon kewarasan kembali menemukan maknanya. Akar kewarasan adalah kesadaran bahwa kita saling membutuhkan. Batangnya adalah keberanian untuk menjaga nilai meskipun dunia mendorong kita untuk serba cepat dan serba untung.
Cabangnya adalah partisipasi: hadir, mendengar, merawat, bekerja bersama, dan mengambil bagian dalam persoalan yang melampaui kepentingan diri sendiri. Buahnya adalah kehidupan yang lebih manusiawi. Era Humanisasi, dengan demikian, bukan berarti meninggalkan teknologi. Justru sebaliknya. Kita membutuhkan teknologi, tetapi teknologi harus dikembalikan pada tempatnya: sebagai alat untuk memperluas kemampuan manusia, bukan sebagai pengganti makna kemanusiaan.
Kecerdasan buatan dapat membantu kita berpikir, tetapi ia tidak boleh membuat kita berhenti berpikir. Algoritma dapat merekomendasikan apa yang kita baca, tetapi ia tidak boleh menentukan seluruh cara kita memahami dunia. Mesin dapat mengambil alih pekerjaan tertentu, tetapi waktu yang terbebaskan harus dikembalikan kepada kehidupan; baik keluarga, komunitas, kreativitas, pendidikan, alam, dan perawatan.
Masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang lebih cerdas. Ia membutuhkan manusia yang lebih hadir. Mungkin itulah lompatan evolusi yang sebenarnya. Bukan dari Homo sapiens menuju manusia yang semakin cepat, semakin kuat, dan semakin produktif, melainkan menuju manusia yang semakin sadar bahwa kehidupan adalah sesuatu yang harus dihidupi bersama. Kita telah menghabiskan waktu yang panjang untuk membangun dunia.
Kini saatnya kita belajar merawat manusia yang tinggal di dalamnya. Selamat datang di Era Humanisasi. Era ketika ukuran kemajuan bukan hanya seberapa tinggi kita dapat terbang, tetapi seberapa dalam akar kita menancap pada kemanusiaan. Era ketika kecerdasan menemukan batasnya pada kebijaksanaan, kebebasan menemukan pasangannya dalam tanggung jawab, dan kemajuan menemukan maknanya dalam kemampuan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi semua.
Dari Homo sapiens menuju humanitas participans: bukan meninggalkan manusia lama, melainkan menyempurnakan tugas kemanusiaannya. Sebab barangkali, setelah semua yang berhasil kita ciptakan, pertanyaan terbesar peradaban bukan lagi “Apa yang mampu dilakukan manusia?”, tetapi “Manusia seperti apa yang ingin kita hadirkan?”


