Pemerolehan Bahasa Kedua dan Bayang-bayang Bahasa Ibu

Muhamad Alfan

Reading Time: 2 minutes

Pernah dengar orang Jawa berbicara bahasa Inggris dan terdengar “medok”? Fenomena ini membuka pintu menuju konsep pemerolehan bahasa kedua behavioristik, yaitu teori yang menjelaskan seberapa jauh bahasa ibu (L1) membentuk cara kita menguasai bahasa kedua (L2). Kepercayaan populer mengatakan peran L1 ini cenderung negatif. Ia dianggap penghalang yang harus “dikalahkan” agar tuturan kita mendekati penutur asli.

Untuk memahami akar pandangan ini, kita perlu menengok era sebelum akhir 1960-an, ketika teori belajar behavioristik mendominasi cara orang memahami pemerolehan bahasa. Saat itu, riset SLA (second language acquisition) belum banyak bersandar pada data tuturan nyata pembelajar; teorinya lebih banyak dipinjam dari psikologi umum, terutama dari B.F. Skinner lewat karya klasiknya, Verbal Behavior.

Bahasa Sebagai Kebiasaan yang Dibentuk

Behaviorisme punya cara pandang khas, bahwa bahasa bukan misteri mental, melainkan respons yang dapat diamati terhadap stimulus di sekitar kita. Dua gagasan kunci lahir dari sini, yakni kebiasaan (habit) dan kesalahan (errors), keduanya menjadi kerangka utama untuk menjelaskan bagaimana anak-anak maupun pembelajar bahasa kedua “menangkap” bahasa dari lingkungannya.

Watson, salah satu tokoh behaviorisme, bahkan menolak keras gagasan tentang proses mental internal, menyebutnya “takhayul” dan “sihir”. Ia menilai bahwa hanya perilaku yang dapat disentuh dan diamati yang layak jadi bukti ilmiah. Kebiasaan menurut pandangan ini memiliki dua ciri utama: teramati dan otomatis, dijalankan tanpa kesadaran penuh dan sulit dihapus kecuali lingkungan pemicunya berubah.

Ilustrasi paling menggugah datang dari Leonard Bloomfield (1933), yang menggambarkan bagaimana seorang bayi belajar mengucap kata “doll” (boneka). Celotehan acak bayi—suara “da” yang keluar begitu saja—perlahan dikaitkan dengan kehadiran boneka nyata oleh sang ibu. Ketika ucapan si anak semakin mendekati bentuk konvensional, ia diberi hadiah berupa respons yang diinginkan. Ketika gagal, ia tidak mendapat apa-apa, bahkan mungkin berujung tantrum. Proses tarik-menarik antara penguatan (reinforcement) dan kegagalan inilah yang, menurut behavioris, membentuk bahasa manusia sedikit demi sedikit.

Baca juga:  Perjelas Bahasa Hukum kepada Masyarakat, Polisi Berikan Penyuluhan

Logika ini kemudian diperluas ke pemerolehan bahasa kedua, bahwa imitasi dan penguatan dianggap sebagai mesin utama yang menggerakkan pembelajar untuk membentuk kebiasaan baru dalam bahasa target. Tak mengherankan jika metode pengajaran seperti drilling dan imitasi berulang lahir dari filosofi ini, dan masih dipakai guru bahasa hingga sekarang.

Ketika Kebiasaan Lama Menjadi Musuh

Di sinilah letak sisi gelap cerita ini: kebiasaan lama dari L1 dianggap menghalangi pembentukan kebiasaan baru di L2, fenomena yang disebut hambatan proaktif (proactive inhibition). Contoh klasiknya cukup menggelitik. Penutur Prancis yang mengekspresikan “kedinginan” dengan mengatakan “I have cold” dalam bahasa Inggris, sekadar menerjemahkan langsung dari “J’ai froid” di bahasa ibunya.

Namun tidak semua transfer bahasa berujung buruk. Ketika struktur L1 dan L2 kebetulan sama —seperti cara bahasa Jerman dan Inggris menyatakan usia secara paralel — transfer justru bersifat positif dan mempermudah pembelajaran. Ada semacam hukum tak tertulis, yaitu perbedaan struktur menciptakan kesulitan dan kesalahan berbahasa, sementara kesamaan struktur mempermudah jalan pembelajar.

Yang menarik untuk direnungkan adalah nada moral yang menyelimuti gagasan tentang “kesalahan” dalam tradisi behavioristik ini. Robert Brooks (1960) bahkan menyamakan kesalahan dengan dosa—sesuatu yang harus dihindari dan diberantas pengaruhnya. Pandangan ini menempatkan kesalahan bukan sebagai bagian alami dari proses belajar, melainkan sebagai kegagalan (non-learning) yang nyaris memalukan, bukan sekadar pembelajaran yang keliru (wrong learning).

Warisan yang Masih Hidup di Kelas Bahasa

Terlepas dari kritik yang kemudian muncul terhadap behaviorisme, jejaknya masih terasa kuat di ruang kelas bahasa hingga hari ini. Guru masih mengandalkan drilling dan imitasi sebagai teknik andalan, dan analisis kontrastif antara bahasa ibu siswa dengan bahasa target masih dipakai untuk memprediksi di mana kesalahan mungkin muncul.

Baca juga:  Sholawat

Pertanyaannya saat ini adalah, apakah kita masih memandang kesalahan berbahasa sebagai “dosa” yang harus dihindari mati-matian, atau justru sebagai jendela untuk memahami bagaimana pikiran manusia bernegosiasi antara dua sistem bahasa yang berbeda?

Muhamad Alfan

Muhamad Alfan

Dosen Bahasa Inggris UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Related Post

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia