Bank sampah merupakan salah satu upaya pengurangan limbah sampah anorganik (plastik, botol kaca, kaleng, dll) yang dapat ditabung dan diuraikan kembali menjadi nilai jual melalui Teknik 3R yaitu, Reduce (Mengurangi), Reuse (Menggunakan kembali), Recycle (Mendaur ulang), dimana telah diatur dalam Permen LH No. 13 Tahun 2012, yang dimana sekarang pengelolaan bank sampah juga diatur oleh Permen LHK No. 14 Tahun 2021. Berdasarkan penerapan adanya bank sampah tentunya kita dapat menumbuhkan respon peduli terhadap lingkungan, adanya bank sampah juga merupakan strategi yang efektif dalam mendorong masyarakat peduli terhadap lingkungan, selain itu juga memiliki manfaat lain selain menjadi lingkungan yang bersih yaitu adanya manfaat ekonomi sebagai nilai jual.
Pentingnya Memilah Sampah
Keberhasilan bank sampah juga tentunya membutuhkan kesadaran dan pembiasaan dari masyarakat dalam memilah sampah di rumahnya, untuk mencapai hasil yang diinginkan tentunya harus efektif dan konsisten tidak hanya satu kali dua kali saja, karena dalam memilah untuk memasukkan sampah anorganik ke tempat yang sudah disediakan tidak mudah. Pemilihan sampah anorganik juga merupakan kunci berkelanjutkan untuk menerapkan adanya bank sampah, karena mencegah sampah anorganik tercampur dengan sampah-sampah organik. Adanya bank sampah tetapi tidak ada kepedulian untuk membedakan sampah ketika membuang itu sama saja seperti tong sampah biasa, yang perlu ditekankan adalah kepedulian untuk membuang sampah pada tempatnya dan sesuai jenisnya. Peningkatan volume sampah yang ada di kota pekalongan maupun di kabupaten pekalongan saja menjadi permasalahan setiap tahun. Faktanya jumlah sampah yang mencapai ribuan ton pertahun yang terus meningkat berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Manfaat Ekonomis
Jika dilihat dari sisi ekonomi, sampah anorganik tentunya dapat meningkatkan pendapatan sampingan masyarakat, seperti adanya sampah-sampah botol plastik, kaca atau logam yang dijual kembali. Fakta lain yang menunjukan keefektivitasan dari adanya bank sampah meningkatkan penghasilan warga mulai dari hasil puluhan hingga ratusan ribu, karena menunjukan bahwa sampah yang sering kali disetorkan ke bank sampah merupakan sampah-sampah plastik, karena merupakan limbah rumah tangga yang paling umum digunakan. Melihat dari manfaat yang telah disebutkan, saya berpendapat bahwa adanya penerapan pemilahan sampah melalui bank sampah tentunya tidak hanya menjadi upaya pengurangan sampah anorganik, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yaitu dapat menjadikan penghasilan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Perkuat Hubungan Sosial
Bank sampah dapat memperkuat hubungan sosial dalam masyarakat. Bank sampah tentunya sudah tersebar di berbagai tempat seperti, lingkungan masyarakat, sekolah, kampus, bahkan kantor. Pastinya sudah ada pengelola dan pengembangan instansi dari masyarakat dan pengelola dari bank sampah sendiri. Berdasarkan adanya bank sampah saya sendiri tentunya percaya bahwa hal tersebut dapat memperkuat budaya gotong royong dan rasa tanggung jawab sosial karena semua pihak terlibat dalam kegiatan pemilihan dan pengumpulan sampah. Namun keefektivitasan bank sampah tetap harus diprihatinkan karena beberapa kendala. Karena dari penglihatan saya, tidak semua bank sampah memiliki fasilitas dan tenaga pengelola yang memadai, sehingga operasional pengelolaan tidak berjalan optimal.
Beberapa Kendala dan Solusi
Sebagian masyarakat juga kesulitan dalam memilah sampah, dikarenakan mereka belum terbiasa untuk memilah sampah dan memasukkan ke tempat yang sudah disediakan. Hal tersebut mengakibatkan tenaga kerja dan masyarakat kesulitan dalam memisahkan sampah-sampah yang tercampur. Semuanya dapat diatasi dengan masyarakat yang harus membuang sampah sesuai tempatnya, ataupun melalui bantuan pemerintah dengan cara meluncurkan alat bantu berupa alat pemilah sampah otomatis. Mulai dari kesadaran kecil tentunya dapat membantu dalam mengurangi adanya penumpukan sampah anorganik. Sampah yang sudah di tabung kemudian akan dikelola oleh tim kelola ataupun dimanfaatkan oleh masyarakat nya sendiri.
Pemanfaatan Sampah Anorganik
Sampah yang ada di bank sampah lebih banyak sampah anorganik, dimana sampah seperti botol plastik dapat dijual kembali. Hal tersebut tentunya membantu adanya nilai ekonimi bagi warga yang memanfaatkan. Nilai jual yang diperoleh dari masyarakat dapat puluhan hingga ratusan ribu tergantung dengan seberapa banyak barang bekas itu dijual.
Nilai jual yang ditetapkan memiliki harga jual yang berbeda-beda. Seperti tempat yang pernah saya datangi di daerah Pekalongan, yaitu setiap satu botol plastik dijual dengan harga mulai dari RP.250 – Rp.5.000 perbotol sesuai dengan kondisi botol yang dijual bahkan bisa lebih. Tidak hanya perbotolan saja yang dijual, tetapi banyak sampah anorganik lainya seperti, botol kaca, besi, bahkan logam. Namun disisi lain banyak juga masyarakat yang memanfaatkan bank sampah untuk dijadikan bahan daur ulang, seperti merubah barang bekas anorganik menjadi sesuatu yang dapat dijual kembali.
Perlunya Kesadaran Masyarakat
Program diadakannya bank sampah tentu karena adanya kesadaran Masyarakat sekitar dan pemerintahan, bahwa sampah yang tiap tahun selalu meningkat seharusnya kita memiliki kesadaran untuk mencegah dan menguranginya. Maka diterapkanlah bank sampah di sekitar pinggir jalan raya, sekitar kampung, dan di tempat-tempat sekolah. Adanya bank sampah tentunya dapat mengurangi penumpukan sampah anorganik di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sampah anorganik yang menumpuk pastinya juga akan mengakibatkan banyak bahaya lingkungan sekitar, seperti wabah penyakit bahkan terjadinya banjir.
Kesimpulan
Keberadaan bank sampah mampu menumbuhkan kepedulian lingkungan, memperkuat kerja sama sosial, serta mendorong kebiasaan memilah sampah dari rumah. Meski masih menghadapi berbagai kendala seperti kurangnya fasilitas dan rendahnya kesadaran masyarakat, semua tantangan tersebut dapat diatasi melalui konsisten, dan dukungan dari berbagai pihak. Pada akhirnya, bank sampah bukan sekadar tempat menabung sampah, tetapi sarana untuk menanamkan budaya peduli lingkungan dan membuka peluang ekonomi. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, satu botol yang kita pilah hari ini adalah harapan untuk lingkungan yang lebih bersih di kemudian hari.
