Melihat maraknya perusakan alam secara sengaja oleh ulah manusia, akademisi mengambil peran sentral dalam menentukan sikap. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Mujiburrahman, menawarkan konsep pendekatan agama dan sains. Hal ini ia sampaikan saat mengisi Seminar Internasional Konsorsium Akademik Islam se-Borneo (KAIB) ke-16, di salah satu hotel di Kota Pontianak, Rabu (10/9/2025). Dalam seminar ini, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak bertindak selaku tuan rumah.
Menurut Mujiburrahman, berdasarkan literatur “Sacred Nature” karya Karen Armstrong (2022), krisis ini berakar dari perkembangan sains dan teknologi yang terlepas dari nilai-nilai agama dan etika. Kekhawatiran serupa juga telah diungkapkan oleh Seyyed Hossein Nasr sejak tahun 1966 silam.
“Pertama kita mesti memikirkan kembali hubungan antara sains dan agama, baik melalui ekoteologi, fikih lingkungan, maupun gagasan menjaga keselamatan lingkungan sebagai tujuan Syariat Islam (maqashid al-syariah) ke-enam. Kedua, melakukan kajian empiris yang mendalam”, jelasnya.
Lanjut Profesor kelahiran Amuntai, Kalimantan Selatan, umumnya Bumi Borneo kaya sumber daya alam seperti batubara, kelapa sawit, minyak, dan gas, sehingga terbilang strategis untuk melakukan studi mengenai kerusakan lingkungan, dan diharapkan mampu mengorbitkan rekomendasi konkret menuju perubahan pembangunan berkelanjutan.
Seruan normatif oleh Rektor UIN Antasari tersebut bak gayung bersambut, sebab Provinsi Kalimantan Barat merupakan lahan subur biang kerusakan alam. Tak lain dikarenakan aktivitas Pertambangan Emas Ilegal Tanpa Izin (PETI). Data Kementerian ESDM menunjukkan 2.741 titik PETI di seluruh Indonesia, mencakup emas, batubara, dan mineral lainnya. Wilayah yang dilintasi garis khatulistiwa tergolong memiliki tingkat pencemaran tinggi.
Mengutip laporan Polda Kalimantan Barat, sejak 1 Januari hingga 6 Agustus 2025 terungkap 40 kasus PETI di 26 lokasi dengan 65 tersangka, beserta barang bukti 33,71 kilogram emas, uang tunai lebih dari 90 juta rupiah, mata uang asing (Ringgit Malaysia, Baht Thailand, Dolar Taiwan, Dolar Singapura), termasuk 25 unit mesin dan alat berat.
Presiden RI Prabowo Subianto sendiri mengklaim bersikeras memerangi praktik eksploitasi alam secara ekstrem di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Borneo Barat yang dinilai berkondisi sangat rawan. Sedikitnya 1.063 tambang ilegal beroperasi di berbagai daerah, bahkan ditaksir kerugian negara mencapai Rp300 triliun.
“Tidak ada kompromi. Semua akan ditertibkan tanpa pandang bulu. Siapa pun yang terlibat, meski jenderal, pejabat, atau pemodal besar akan ditindak,” tegas RI 1 saat berpidato di ruang sidang MPR, 15 Agustus 2025 lalu.
