Dampak Kecerdasan Buatan bagi Masa Depan Dunia Kerja

Naufal Gastiadirrijal

Reading Time: 3 minutes

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini menunjukkan kemajuan yang signifikan di berbagai bidang yang dapat menyebabkan dampak positif dan negatif. Kita dapat menemukan sentuhan AI dalam bidang pendidikan, pengolahan data dan informasi, kesehatan, transportasi, asisten virtual dll. AI memiliki dampak positif dan negatif salah satu dampak positif nya adalah memudahkan pekerjaan sehari-hari dan mengefisienkan pekerjaan. Dan dampak buruknya salah satunya dapat mematikan lapangan pekerjaan di dunia karena saking masifnya AI.

Kecerdasan buatan membantu mengenali pola atau sistem dari fenomena yang menjadi perhatiannya, melakukan tugas yang biasanya dilakukan manusia, membantu membuat pilihan pengambilan keputusan, serta alat pembelajaran membangun pengalaman baru dan kemampuan atau kapabilitas baru.

Dampak AI bagi Dunia Kerja

Banyak raksasa teknologi yang mulai menggunakan AI untuk menggantikan peran manusia. Misalnya saja Google yang baru-baru ini melakukan PHK di tim sales iklan. Reuters melaporkan bahwa gelombang PHK di perusahaan terknologi terjadi seiring dengan upaya mengurangi beban kerja karyawan lewat adopsi AI dan otomatisasi. IBM dan BT Group juga menyebut soal AI ketika mengumumkan PHK baru-baru ini.

Menurut studi Goldman Sachs, AI bisa berdampak pada 300 juta pekerjaan di seluruh dunia. Hal ini bisa menyebabkan disrupsi yang signifikan pada bursa kerja. Pada 2030 mendatang, diprediksi lebih dari 12 juta pekerjaan di Amerika Serikat (AS) akan punah dan berganti dengan permintan pekerjaan baru, menurut analisis McKinsey.

Business Insider mengobrol dengan beberapa pakar untuk mengumpulkan daftar pekerjaan yang disebut paling berisiko dan lebih dulu digantikan oleh AI. World Economic Forum memperkirakan, hingga tahun 2025 akan ada sekitar 85 juta pekerjaan tergantikan AI. Namun dalam periode yang sama, laporan itu juga menyebut AI juga akan mendorong penciptaan 97 juta lapangan kerja baru. Di Indonesia, belum ada penelitian mendalam terkait dampak AI bagi sektor tenaga kerja. Namun, sejumlah referensi memperkirakan ada sekitar 50 persen hingga 60 persen pekerjaan akan terdampak oleh otomasi, yang di antaranya penggunaan AI.

Baca juga:  Fenomena Buku di Gramedia dan Tantangan Dunia Literasi

Langkah Strategis Pemanfaatan AI

Di Indonesia sendiri, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyiapkan tiga langkah strategis untuk mendukung pemanfaatan AI di Indonesia, yaitu menyiapkan dan mengembangkan talenta digital yang cakap teknologi AI, memfasilitasi pengembangan ekosistem dan menyusun regulasi dan tata kelola. Untuk mewujudkan talenta digital, Kominfo akan fokus pada literasi teknologi AS dan pengembangan teknis kecakapan AI, demi meningkatkan kesadaran dan kepercayaan pemanfaatan AI. Kominfo memiliki program Digital Talent Scholarship, Gerakan Nasional Literasi Digital dan Digital Leadership untuk mengembangkan talenta digital selama beberapa tahun terakhir ini.

Berkaitan dengan fasilitasi pengembangan ekosistem pendukung AI, termasuk riset dan inovasi, integrasi data serta infrastruktur pendukung, Kominfo menyikapinya dengan memperluas akses internet dan membangun Pusat Data Nasional. Sementara itu, mengenai langkah ketiga, yaitu regulasi dan tata kelola, menurut Kominfo, aturan perlu fokus memfasilitasi pertukaran data operasi AI, mengedepankan keamanan privasi data pribadi, transparansi, akuntabilitas dan prinsip demokratis.

Mengembangkan Sisi Manusiawi

Sebagai program buatan manusia, AI sudah pasti memiliki banyak kekurangan jika dibandingkan dengan manusia. Keunggulan yang dimiliki oleh AI adalah pada bidang-bidang yang memerlukan konsistensi yang tinggi dan berulang. Akan tetapi, pada bidang-bidang yang membutuhkan sisi manusiawi seperti kreativitas, emosi, empati, pengambilan keputusan, dan lain-lain, kemampuan manusia tetap jauh lebih unggul. Kita harus makin mengasah sisi manusiawi kita agar dapat bersaing di tengah perkembangan AI. Banyak sekali wadah untuk mengembangkan sisi kemanusiaan yang erat kaitannya dengan kemampuan non teknis atau soft skill ini. Mulai dari kegiatan-kegiatan seperti pembelajaran di kelas, kepanitiaan, organisasi, dan banyak lainnya. 

Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, kita dapat melatih sisi kreativitas kita untuk menumbuhkan ide-ide baru. Melatih mengendalikan emosi ketika bertemu dengan banyak orang dengan watak yang berbeda. Kita juga bisa menumbuhkan empati melalui kegiatan-kegiatan yang berdampak pada sosial, dan tentunya mengambil keputusan terbaik untuk semua orang. Dengan begitu, kita sebagai manusia tetap bisa memanfaatkan perkembangan AI tanpa merasa tertandingi. Karena pada akhirnya, sisi kemanusiaan kitalah yang dapat menyelamatkan kita di tengah perkembangan AI yang masif ini.

Baca juga:  Ingin Sejahterakan Pengrajin Logam, NBAS Kotagede Ciptakan Peluang Kerja

Related Post

DomaiNesia