Media Sosial: dari ‘Teman Dekat’ jadi Pengguncang Kesehatan Mental Mahasiswa

Fanisa Nur Fauzia

Media Sosial dan Kesehatan Mental
Reading Time: 3 minutes

Niatnya cuma buka media sosial 5 menit, tiba-tiba lupa diri rebahan 2 jam di kasur. Buku yang seharusnya menjadi teman mahasiswa, sekarang perlahan mulai terlupakan. Kebiasaan buruk mahasiswa adalah rasa mager, penyakit yang seringkali muncul dan mahasiswa alami. Terlalu nyaman rebahan di kamar sambil scroll dan nonton drakor sudah jadi kebiasan sehari-hari. Seakan-akan sebagian hidupnya ada di genggaman gadget. Ini merupakan hal sepele, namun tanpa disadari akan memberikan pengaruh yang serius bagi kesehatan mental mahasiswa.

Saat ini isu kesehatan mental bukanlah hal yang asing untuk kita dengar, terutama dalam kalangan mahasiswa. Di era digitalisasi saat ini kita hidup berdampingan dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang, sehingga seringkali kita dibuat ketergantungan dan seakan akan sudah menjadi kebutuhan mahasiswa dalam mengekspresikan dirinya di kehidupan sehari-hari lewat media sosial. Karena, kerap kali mahasiswa menggunakan media sosial untuk mencari informasi, mengekspresikan diri, berkomunikasi, hingga membentuk citra diri di media sosial. Nah, mengapa dikatakan media sosial dapat memberikan dampak pada kesehatan mental sebagai seorang mahasiswa? karena, seringkali mahasiswa tidak sadar dalam mengkonsumsi media sosial secara berlebihan, dapat menyebabkan lelah secara emosional saja.

Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan mental yang memungkinkan seseorang mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan mereka, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkonstribusi bagi komunitas mereka. Penggunaan media sosial yang dilakukan terus menerus tentu saja akan memberikan dampak pada mahasiswa. Dampak yang dirasakan adalah perubahan pada kesehatan mental mahasiwa, baik dalam mempengaruhi cara berfikir, merubah persepsi atau cara pandang mahasiswa dan dapat mempengaruhi interaksi sosial dalam kehidupannya. Semua itu merupakan bagian dari Kesehatan mental yang harus diperhatikan oleh mahasiswa. Masalah kesehatan mental yang tidak stabil tentu saja bukanlah hal sepele yang boleh dibiarkan terus menerus terjadi, karena tidak hanya waktu yang terbuang saja, tetapi menyangkut kualitas hidup dan Kesehatan mental seorang mahasiswa.

Menggerus Daya Kritis Mahasiswa

Data Tahun 2022 dari Pew Research Center mengatakan 95% remaja Gen Z di dunia terhubung dengan internet setiap hari. Nah siapa saja remaja Gen Z itu? yaitu termasuk mahasiswa juga yang tahun kelahiranya sekitar 1997-2012. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk mengkonsumsi media sosial secara terus menerus. Ketika menerima informasi dan tontonan lewat media sosial dalam platform apapun itu, seringkali kita memandang realitas secara sempit dan terpaku pada standar kehidupan yang ditampilkan di media sosial. Penerimaan informasi secara cepat juga menyebabkan mahasiswa membentuk pemikiran yang instan, artinya dalam memandang sesuatu mahasiswa tidak lagi mengedepankan analisis mendalam terhadap fenomena yang ada dalam hidupnya. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk berfikir kritis bagi mahasiswa.

Baca juga:  Media Sosial dan Hilangnya Seni Menjadi Manusia

Tak Bisa Gantikan Dunia Nyata

Media sosial dapat digunakan sebagai ruang untuk berinteraksi dan bertukar informasi dalam dunia digital. Namun, apakah pemenuhan kebutuhan secara emosional mahasiswa dapat dipenuhi jika hanya berinteraksi dengan orang lain melalui media sosial? Media sosial tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran interaksi dalam dunia nyata, umumnya mahasiswa berdiskusi, melangsungkan percakapan, bertukar pendapat bukanlah hal yang asing bagi mahasiswa. Jika mahasiswa hanya aktif dalam interaksi di media sosial yang bersifat semu, maka dalam dunia nyata akan menemui hal yang berbeda.

Dalam hasil riset yang dilakukan pada tahun 2014 menyebutkan bahwa media sosial yang digunakan dalam kehidupan sehari hari saat ini menjadi suatu kebiasaan atau kebutuhan yang semakin lumrah dan tanpa disadari membawa efek negatif dikehidupan seperti kecanduan. Kecanduan memberikan efek nyaman mahasiswa untuk terus berinteraksi dalam media sosial. Hal ini akan menjadikan mahasiswa tidak dapat membentuk citra diri dalam kehidupan nyata. Mahasiswa cenderung diam karena terlalu asik menghabiskan waktunya dalam dunia maya. Imajinasi yang ditampilkan di media sosial juga seringkali tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi dalam dunia nyata.

Tekanan Hidup dari Layar Kecil

Seringkali media sosial hanya menampilkan sisi terbaik yang ada dari hidup para penggunanya, hal ini menyebabkan mahasiswa merasa tertekan dengan tuntutan kesempurnaan dan keberhasilan yang harus dicapai dan menganggap kehidupan orang lain selalu baik. Sehingga mahasiswa cenderung menjadikan tontonan di media sosial sebagai standar kehidupan yang ideal, padahal realita yang terjadi pun tidak akan semudah dan semulus itu. Prof. Siswanto Agus Wilopo yang merupakan dosen Universitas Gadjah Mada mengatakan bahwa “sosial media sejak lama sebenarnya menjadi faktor penting. Persoalannya sosial media itu bisa memberikan dampak negatif dan positif. Namun, saat ini masing-masing individu tidak terlalu selektif dalam melihat informasi sehingga banyak negatifnya itu lebih diserap oleh anak anak sekarang”.

Baca juga:  Pentingnya Penggunaan Bahasa Jurnalistik yang Baku dalam Menjaga Kredibilitas Media

Media sosial adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa saat ini, sebagai sarana belajar, mengekspresikan diri, maupun hanya sekedar menjadi hiburan. Media sosial bukanlah musuh, tetapi hanya sebuah alat. Namun, jika kita tidak mengendalikan diri dalam menggunakan media sosial, maka kita akan terbawa arus yang pelan-pelan akan memberi pengaruh pada kesehatan mental kita. karena media sosial menjadikan kita seakan-akan ikut hidup di dunia maya, yang seringkali membuat standar kehidupan nyata kita harus sesuai dengan tontonan yang kita lihat di media sosial.  Oleh karena itu, sebagai mahasiswa harus lebih bijak dalam membatasi diri untuk mengkonsumsi media sosial. Selain belajar mahasiswa juga hendaknya memperhatikan kesehatan mental agar tetap waras dan semangat dalam belajar.

Fanisa Nur Fauzia

Fanisa Nur Fauzia

Mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Related Post

DomaiNesia